UJIAN NASIONAL DAN INTEGRITAS SEKOLAH

Selasa, 17 Mei 2016 05:24:12 - oleh : admin

Artikel Oleh H. Darmadi, S.Pd., M.Si

 

Prosedur Operasional Standar (POS) Penyelenggaraan Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2015/2016 secara tersurat telah menjabarkan bahwa Ujian Nasional bukan lagi sebagai penentu kelulusan siswa. Hal ini merupakan sebuah kebijakan yang perlu didukung. Jika selama ini nasib siswa ditentukan oleh nilai yang diperoleh selama satu pekan UN, kini ketentuan kelulusan siswa ditentukan dari sikap, penilaian akademis, dan psikomotorik atau keterampilan siswa dalam menerapkan pengetahuan yang telah dipelajari ke pemecahan masalahdi kehidupan sehari-hari. Penilaian dilakukan secara utuh dan mrnrluruh melibatkan wali kelas dan guru mata pelajaran.

Meski tak lagi menjadi penentu kelulusan, hasil UN akan digunakan untuk pemetaan mutu program dan atau Satuan Pendidikan, pertimbangan seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, dan pertimbangan dalam pembinaan dan pemberian bantuan kepada Satuan Pendidikan dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dengan keputusan yang pro peserta didik ini, pendidikan di Indonesia dapat menciptakan suasana sekolah yang lebih kondusif dalam mengembangkan karakter dan kepribadian siswa. Karena pada hakikatnya, sekolah bukanlah tempat pertarungan siswa dengan penentuan menang dan kalah didasari oleh angka-angka belaka. Lebih dari itu, sekolah adalah potret kehidupan wadah bagi siswa untuk mengembangkan diri sesuai potensi dan keunikannya masing-masing.

Langkah progresif dari pemerintah selanjutnya adalah penetapan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UN BK). Penetapan ini merupakan suatu langkah efektif untuk meningkatkan kejujuran UN. Hal tersebut diharapkan dapat menjadi titian awal untuk menciptakan pendidikan Indonesia yang berintegritas secara menyeluruh. Dampak positif UN BK terhadap integritas sekolah dapat teramati dari Rata-rata Indeks Integritas UN SMA dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2016 yang secara umum meningkat, yaitu  64,05.

Dalam pelaksanaannya, UN BK menuntut siswa untuk jujur dan percaya diri. Praktik UN BK tidak memungkinkan siswa untuk saling bekerja sama atau mencontek. Selain paket soal yang tidak sama satu sama lain, Ujian Nasional Berbasis Komputer juga menggunakan sistem shuffle atau acak setiap satuan waktu tertentu. Dengan demikian, soal masing-masing peserta didik dipastikan tidak akan sama.

Semua pihak yang terlibat dalam UN harus diapresiasi atas pencapaian ini. Penurunan secara signifikan kecurangan dalam Ujian Nasional menjukkan bahwa terjadi peningkatan pada integritas sekolah. Peningkatan integritas sekolah ini pada akhirnya akan mendekatkan Indonesia pada tujuan pendidikan Indonesia yaitu menciptakan para penerus bangsa yang cerdas dan berkarakter terpuji. Kejujuran (integritas) adalah jiwa pendidikan. Tanpa kejujuran (integritas), pendidikan hanyalah formalitas yang sia-sia.

Semangat untuk menjadikan setiap sekolah menjadi zona berintegritas harus terus dikobarkan. Sehingga kelak, para peserta didik yang selesai mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah, telah terbentuk menjadi para penerus bangsa yang cerdas, berintegritas, dan berdedikasi penuh pada bangsa dan negara. Para ujung tombak peradaban yang akan membawa Indonesia bersih tanpa korupsi. Untuk kemudian, akan mampu mengembalikan kejayaan Indonesia di mata dunia.

New layer...

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Artikel" Lainnya