Perang Libya, Harga Minyak Bisa US$140/Barel

Selasa, 22 Maret 2011 17:48:10 - oleh : admin

 

VIVAnews - Perang Libya dikhawatirkan dapat mempengaruhi harga minyak mentah dunia hingga mencapai level tertinggi, yaitu US$140 per barel seperti terjadi pada 2008.

Pada Senin 21 Maret 2011, harga minyak melampaui US$103 per barel. Harga minyak melesat setelah pemimpin Libya Moammar Khadafi bersumpah akan terjadi "perang panjang" saat sekutu melakukan serangan militer pada negara yang tergabung dalam OPEC tersebut.

Koalisi Amerika Serikat, Perancis, Inggris, dan negara lainnya melakukan serangan dengan bom melalui tank dan serangan udara.

Khadafi mengatakan ia tidak akan mundur dan berjanji meneruskan serangan ke benteng timur Benghazi. Pertempuran yang terjadi selama satu bulan terakhir ini dikhawatirkan akan menghentikan produksi minyak mentah  sebesar 1,6 juta barel per hari.

Para investor saat ini khawatir intervensi dari dunia internasional dapat memperluas konflik dan menghambat produksi minyak Libya dari perkiraan sebelumnya.

"Rezim di Tripoli tak menunjukkan tanda-tanda menyerah. Hilangnya minyak Libya secara berkepanjangan dapat mendorong harga sampai level tertinggi hingga di atas US$140 yang terjadi pada 2008," tulis laporan Capital Economics.

Khadafi juga memperingatkan barat tak akan mendapatkan minyak Libya, dan menyatakan pasukannya mampu mensabotase minyak mentah. "Respon bumi hangus dari Khadafi dapat menyebabkan gangguan perjalanan kapal di Mediterania," kata konsultan The Schork Report .

Sore hari ini, harga minyak mentah untuk pengiriman April naik US$2,12 menjadi US$103,19 per barel di perdagangan New York Mercantile Exchange setelah sempat turun 35 sen pada Jumat lalu yang bercokol di US$101,7 per barel.

Dengan meningkatnya pasar modal Senin lalu, seiring sikap optimistis Jepang memperbaiki kondisi radiasi yang terjadi di PLTN Fukushima, para analis menyatakan permintaan energi di negara ekonomi terbesar ketiga ini akan menurun dan bertahan pada batas di atas harga minyak.

"Bencana nuklir Jepang tampaknya akan memberikan dampak sangat lama, artinya pemulihan ekonomi Jepang mungkin akan lambat dan mengganggu," kata Edward Meir dari MF Global di New York. Ia menambahkan situasi ini akan terus menyeret harga energi di pasar dunia.

• VIVAnews

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Manca Negara" Lainnya